NEWS

Webinar: Adaptasi Kebiasaan Baru di Lingkungan Kampus

Yogyakarta, Kamis, 8 Oktober 2020, Pusat Kedokteran Tropis, FK-KMK UGM mengadakan webinar berjudul Persiapan Adaptasi Baru di Lingkungan Kampus. Tema ini merupakan isu penting, karena dunia kampus mengharuskan interaksi yang intens antara mahasiswa, dosen, dan tenaga didik/karyawan administrasi. Baru-baru ini, 200 mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Jakarta terbukti positif COVID-19 dari kegiatan pembelajaran tatap muka yang masih berlangsung (Pikiran Rakyat, 2020). Tidak dapat dipungkiri bahwa aktivitas sehari-hari di dalam kampus dapat dikatakan cukup padat, bahkan ada repopulasi kampus terjadi setiap tahun. Hal ini sangat memungkinkan untuk menjadi pemicu kluster COVID-19 baru.

Webinar ini mengundang pembicara Ketua Tim Satgas Covid-19 UGM, Dr. dr. Rustamadji, M.Kes., untuk berbagi pengalaman penanganan di tingkat kampus dan fakultas agar bisa diadopsi oleh perguruan tinggi lain. Catatan tim Satgas Covid-19 UGM menunjukkan bahwa dominasi penularan terjadi melalui civitas yang melakukan perjalanan ke luar daerah. Mempertimbangkan jumlah mahasiswa yang berkisar 50.000 orang, UGM memberikan prioritas aktivitas kegiatan dilakukan secara daring untuk menyambut repopulasi dengan adaptasi baru. Secara bertahap, universitas mengeluarkan kebijakan khusus diberikan kepada mahasiswa akhir yang menyelesaikan masa studi dan KKN. Oleh karena itu, penyediaan infrastruktur teknologi informasi menjadi penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar maupun Kuliah Kerja Nyata secara daring. Kebijakan yang lain adalah pengurangan individu untuk bekerja secara bergiliran, 14 hari WFH (work from home) dan 14 hari WFO (work from office). Sehingga bagi universitas yang ingin membuka repopulasi kampus ini harus membentuk tim yang cukup, dukungan sumber daya, kebijakan tracking dan pemeriksaan sejak awal, relokasi ruangan, dan membentuk tim khusus dalam mengawal protokol kesehatan.

Menurut Dosen ahli Farmakologi ini, proses implementasi kebijakan pengelolaan aktivitas kampus agar tidak menjadi pusat penularan Sars-Cov-2 perlu dilakukan secara komprehensif antara pencegahan, pengendalian, pemeriksaan dan penanganan. Universitas membentuk tim dengan bantuan dari Gadjah Mada Medical Center dan Rumah Sakit Akademik UGM berkolaborasi dengan Forum Wartawan Kampus Universitas Gadjah Mada (Fortagama) untuk selalu mengawal proses pencegahan, pelacakan, penelusuran, pengujian dan penanganan.

“Dominasi penularan terjadi melalui civitas yang melakukan perjalanan ke luar daerah.”

Dr. dr. Rustamadji, M.Kes.
Ketua Tim Satgas Covid-19 UGM

Pembicara kedua dari Peneliti Pusat Kedokteran Tropis, dr. Citra Indriani, MPH. berbagi pengalamannya dalam keterlibatan dia menyusun strategi-strategi pencegahan dan penanganan penularan area luar kampus. Penanganan dan pencegahan penularan Sars-Cov-2 juga perlu di lakukan di area sekitar kampus, terutama area asrama dan kos mahasiswa. Konteks repopulasi mahasiswa atau pelajar juga perlu melihat di lembaga pendidikan non-formal dan relasinya dengan tempat tinggal sebagai kluster lain yang perlu mendapatkan perhatian. Menurut ahli Epidemiologi Lapangan ini, asrama dan kos dapat menjadi pendukung adanya penularan sekaligus dapat mendukung pembatasan penularan melalui blok-blok kamar tersendiri. Oleh karena itu, memastikan kepatuhan antara pemilik kos dengan mahasiswa menjadi kunci pencegahan. Sehingga, keberhasilan pencegahan penyebarluasan di area kampus perlu bersinergi dengan kebijakan Kawasan tempat tinggal sivitas perguruan tinggi, seperti dengan ketua RT, kelurahan maupun pemerintah daerah kabupaten.

“…keberhasilan pencegahan penyebarluasan di area kampus perlu bersinergi dengan kebijakan Kawasan tempat tinggal sivitas perguruan tinggi, seperti dengan ketua RT, kelurahan maupun pemerintah daerah kabupaten.”

dr. Citra Indriani, MPH
Peneliti Pusat Kedokteran Tropis

Satu hal penting lain di dalam mendukung keberhasilan pencegahan dan penanganan penyebaran, ialah perhatian pada perubahan perilaku untuk hidup bersih dan mematuhi protokol. Melalui payung Health Promotion University/ Kampus Sehat, Prof. Dra. R.A. Yaya Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. menekankan bahwa perubahan budaya perilaku merupakan kunci pendukung keberhasilan intervensi kebiasaan baru. Dia menekankan, meskipun kampus maupun pemerintah sudah menyediakan berbagai fasilitas, seperti cuci tangan, tetapi kalau belum ada perubahan perilaku dan literasi kesehatan. Salah satu kendala penanganan yang masih dihadapi ialah bagaimana sistem pengawasan menertibkan protokol kesehatan di area kampus, karena pengalaman UGM menunjukkan bahwa Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (PK4L) tidak bisa menjangkau beberapa ruangan khusus. Oleh karena itu, persiapan repopulasi universitas perlu melakukan harmonisasi antara program promosi intervensi perilaku sehat dengan manajemen tim pencegahan dan penanganan.

Sebagai kesimpulan, Dr. dr. Andreasta Meliala, DPH., M.Kes. MAS sebagai moderator di diskusi ini, memberikan ilustrasi, “ketika orang yang berilmu pengetahuan tidak menjalankan pengetahuannya, maka mereka yang tidak memiliki pengetahuan, akan mengikuti. Kampus sebagai salah satu institusi yang tugasnya mendidik, meneliti dan pengabdian masyarakat, memiliki knowledge yang besar dalam penanganan dan pencegahan yang disertai dengan bukti-bukti ilmiahnya.” Untuk itu, kampus berperan penting dalam mempromosikan Kampus Sehat yang dapat diadopsi oleh perguruan tinggi lain bekerjasama dengan para pemangku kepentingan terkait dalam sistem kesehatan dan sistem sosial agar memiliki rencana mitigasi yang matang dalam mengadopsi kebiasaan baru.